Asih Lestari

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Naluri

Naluri

Naluri

============

Sore ini langit begitu cerah. Saya menemani kedua kesayangan mewarnai sambil menonton TV.

Tiba-tiba saya teringat peristiwa sekitar seminggu yang lalu.

***

Sore itu awan tebal menggantung memenuhi cakrawala.

Saya dibantu Mbak Halwa mengangkat jemuran yang sudah kering. Ia tidak ikut menjemput adik pulang sekolah dan memilih untuk tinggal di rumah menyelesaikan cerita yang ditulisnya.

Singkat cerita berangkatlah saya untuk menjemput, perkiraan 15 menit saya sudah sampai di rumah kembali.

Baru setengah perjalanan menuju sekolah adik, tiba-tiba hujan turun sangat lebat diikuti angin yang berhembus sangat kencang. Karena tidak membawa mantol akhirnya saya berteduh di toko, sekalian membeli mantol pikir saya.

Lima menit, tujuh menit..

Ya Alloh, hujan disertai angin semakin menjadi-jadi.

Saya mencoba menghubungi tetangga, meminta tolong untuk melihat keadaan Mbak Halwa.

Ia sendiri di rumah...

Astagfirullah...

Hati saya semakin tidak tenang.

Saya sangat khawatir ...

Dari beberapa tetangga dekat rumah yang saya hubungi, ternyata tidak satu pun yang mengangkat telfon...

Mungkin mereka tidak sedang membawa hp, dan suara panggilan dari saya tidak terdengar karena tertutup oleh suara deru angin dan hujan di luar rumah...

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Insyaallah adik aman di sekolah. Saya mengirimkan pesan WA kepada Ustadzah, mengabarkan keterlambatan .

" Mbak, jawahe deres sanget. Angine medeni lhe mbak. Ampun nekat.", salah satu bapak yang juga berteduh di toko tersebut memperingatkan ketika saya mulai menyetarter sepeda.

" Mboten menopo, Pak. Bismillah. Anak Kulo ken nggriyo piyambak.", Saya menjawab kemudian berlalu.

Terbersit rasa takut di dalam hati melihat angin dan hujan yang begitu deras. Namun saya berusaha menepiskannya jauh-jauh.

Mungkin itulah yang namanya naluri seorang ibu. Semua rasa, pemikiran hanya untuk anak...

Hingga tidak lagi memperdulikan keselamatannya sendiri..

Bismillah...

Benar saja baru beberapa meter, angin berhembus semakin kencang. Menjaga keseimbangannya terasa sungguh berat.

Istighfar tak henti-hentinya terucap , saya terus menerus melafalkan doa-doa memohon keselamatan...

Sepeda motor terus melaju, berharap segera sampai di rumah untuk memastikan keadaan kesayangan saya yang ada di rumah.

Hingga akhirnya, tiba-tiba dari arah depan bertiup angin yang sangat kencang. Seketika segalanya menjadi gelap. Saya tidak bisa melihat apa-apa.

Astagfirullah... Astagfirullah...

Sepeda saya mandeg greg... Tak kuasa melaju melawan angin...

Ya Robb...

Saya berhenti di tengah jalan, tak bisa bergerak..

Saya miringkan sedikit stang kendaraan, niat hati ingin menepi. Terpaan angin terasa semakin berat, hampir-hampir saya limbung...

Astagfirullah... Astagfirullah...

Saya urungkan niat...

Hamba pasrah Ya Alloh...

Dalam kepasrahan saya, Allah memberikan pertolongan-Nya...

Tiba-tiba tepat di samping kendaraan saya, ada sepeda motor yang berhenti, dua orang mas-mas berboncengan.

" Bu, panjenengan mandap. Sepedane Kulo tuntune", salah satu dari mereka turun untuk membantu saya.

Beliau nampak terseok-seok menahan terpaan angin menuntun sepeda saya ke tepi jalan. Saya mengikuti satu belakang.

Alhamdulillah...

Tangan dan kaki saya masih gemetaran, detak jantung tak karuan.

Bukan hanya karena takut dengan apa yang baru saja saya alami.

Ada satu yang jauh lebih menusuk hati, yaitu kekhawatiran saya pada kondisi mbak halwa yang sedang di rumah sendiri. Karena angin yang g sedari tadi belum reda arahnya berasal dari arah rumah kami.

Astagfirullah...

Kami berteduh di emperan sebuah toko. Setelah mengucapkan terima kasih, saya mencoba menelpon salah satu tetangga untuk melihat kondisi mbak halwa...

Alhamdulillah.... Kali ini nyambung ..

" Ya buk, tak lihate mbak halwa sekarang.", suara beliau tidak terlalu jelas, tertutup suara hujan dan angin.

Beberapa menit kemudian beliau mengabarkan bahwa Mbak Halwa baik-baik saja, dan ikut beliau ke rumah...

Ploooonggg...

Terasa semua beban di dalam hati hilang, lega ...

Air mata tak kuasa saya bendung...

Nangis bombai....

Air mata bahagia...

Penuh syukur...

Alhamdulillah.

***

Meninggalkan anak sendiri di rumah saat hujan dan angin saja mampu membuat perasaan saya begitu takut dan khawatir.

Entah bagaimana perasaan saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah yang tertimpa musibah yang demikian besar.

Kehilangan dan terpisah dari keluarga tercinta... 😢😢

Do'a terbaik untukmu saudaraku...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali